Rabu, 28 Januari 2015

Amarah mu, Kasih mu IBU


Terimakasih kepada ibu yang telah melahirkan aku dan kedua kakak ku....


Dimana usia 58 kini tak lagi bisa dikatakan muda, melainkan usia tua namun kasihnya tak pernah habis melainkan kesabaran dan cinta disaat melahirkan kami di dunia yang banyak tantangan.
Tak ada makhluk yang tak mempunyai salah kepada siapapun...begitu pula kita sebagai anaknya yang selalu membuat orang tua kita menangis terpendam selama mereka mampu memendamnya...
Ketika kejadian beberapa tahun lalu....ayah dan ibu mendapat kejutan hebat dari kakak pertama ku, dimana saat itu juga kakak ku pulang dari kota pelajar dengan menangis dan tak pernah sekali pun meminta maaf kepada ayah dan ibu, dimana kakak ku telah membuat kesalahan terbesar dimana disaat seharusnya dia belajar di universitas mahal dan ternama di kota pelajar, dia tidak pernah lagi melanjutkan kuliah disaat semester 3. Dan disaat seharusnya dia lulus, dia selalu minta uang kiriman untuk biaya kuliah dan biaya untuk wisuda.

“pak, saya minta maaf telah membohongi selama ini tidak pernah kuliah lagi semenjak semester 3, saya sudah menggadaikan semua barang-barang yang saya miliki untuk dugem di kota pelajar” begitu penjelasan kakak dengan suara parau disaat menangis.

“terus, selama ini bapak dan ibu mengirimkan uang dan uangnya kemana saja itu semua?” tanya bapak dengan nada marah namun tetap mencoba mengendalikan emosi. 


Belum sempat kakak menjelaskan semuanya, datanglah ibu dengan wajah yang kacau dan pulang dengan waktu yang cepat demi menemui anaknya yang memberikannya kejutan tersebut.

“Kacau....kenapa kamu baru saat ini cerita sama kami?kenapa tidak disaat kamu berhenti kuliah waktu itu? Kamu tidak merasakan bagaimana bapak dan ibu membanting tulang untuk kamu dan kedua adik mu? Dimana fikiran kamu saat itu?” suara ibu yang kacau dan marah karena shock berat.

“maaf bu, aku tidak berani untuk memberi kabar orang rumah mengenai hal tersebut, aku tidak mau memberatkan orang rumah, tapi kalau tidak segera aku kasih tahu kalian, pasti lama kelamaan akan ketahuan juga”, balas kakak ku dengan rasa bersalah dimana baru kali ini dia melihat ibu yang marah dan menangis karena pusing memikirkan tingkah laku yang di lakukan dia.

“udah bu, sabar. Tadi saya juga emosi dan kaget setelah dikabari seperti ini..udah bu tenang, besok juga kita harus ke kota pelajar untuk menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin, kita ambil barang-barang yang pernah dia gadaikan selama dia disana, kita pindahkan kuliah saja dia ke kota pahlawan.” Usaha bapak membujuk ibu supaya tetap sabar dan tenang menghadapi seperti ini.

“tapi pak, ibu gak uang tunai saat ini kalau harus melunasi semua, mau dapat uang dari mana pak? Apa cukup gaji yang kita kumpulkan untuk anak-anak kita yang lain untuk melunasi dan menyelesaikan masalah kakaknya?” dengan bingung ibu masih tetap menjaga emosi untuk tidak melakukan kekerasan kepada anaknya sendiri walaupun sebesar apapun kesalahan anaknya.

“cukup bu, nanti bapak akan ambil uang ke bank, ini bapak mau hubungi sopir dulu buat besok kita berangkat subuh menuju kota pelajar tersebut.” Dengan pernyataan tersebut mampu membuat hati ibu agak tenang.


Itulah kejadian demi kejadian yang dilakukan anaknya kepada orang tuanya, namun mereka tetap memberikan penyelesaian dan kesabaran supaya anaknya tetap sama mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dan baik seperti yang lainnya.
Dimana kejadian tersebut adalah pelajaran bagi ibu dan bapak untuk mendidik kedua anaknya yang lainnya supaya tidak terjadi kembali.

“dek, kamu lihat sendiri kan kejadian beberapa tahun lalu yang dilakukan kakak mu kepada kita, dimana bapak dan ibu mengeluarkan uang dan membiayai kebutuhan anak-anaknya supaya kalian menjadi yang terbaik, kita gak ingin apa-apa dari kalian. Kalian sukses kita, terutama ibu selalu senang, ibu gak pernah lupa untuk mendoakan kalian disetiap sujud dan setelah selesai sholat wajib maupun sunnah.”

“iya bu, aku juga gak mau memberatkan biaya kepada bapak dan ibu, aku akan berusaha untuk yang terbaik demi bapak dan ibu senang.” Dengan hati kecil menangis akupun mencoba dan berusaha untuk memberikan yang tebaik kepada mereka.

“kamu jangan pernah malas belajar, apa kamu mau di usia mu kamu masih kuliah seperti kakak mu dulu?tua di bangku kuliah? Ibu hanya ingin anak-anaknya menjadi anak yang sukses dimanapun kalian berada dek.” Dengan nada pilu ibu sambil membelai kepalaku.


****suatu sore hari***


Setelah curahan hati ibu kepada anaknya yang ketiga, mendadak kakak ku yang pertama pun marah dimana dia ingin pindah bekerja ditempat istrinya tinggal saat ini, karena dia tidak ingin berjauhan jarak dengan istrinya karena dia sudah mempunyai keluarga kecil.

“bu, saya pusing kalau caranya kayak begini terus-terusan, saya gak fokus kerja kalau istri saya di jakarta dan saya bekerja di sini. Saya ingin cari kerjaan disana bu.” Dengan emosi dan wajah lelah kakak meminta kepada ibu.

“emangnya cari kerjaan di jakarta semudah gitu? Kalau kamu melepaskan kerjaan disini, apa sudah pasti kamu langsung mendapatkan kerja di jakarta nantinya?” ibu pun cemas apabila kakak pindah kerja belum tentu mendapatkan pekerjaan seperti saat ini.

“kalau gak dicoba, bagaimana bisa tahu bu?saya harus ijin sama kantor untuk mengikuti test wawancara di jakarta.” dengan nada membentak kakak tetap keras kepala.

“kamu ijin terus, apa nanti teman-teman mu gak akan iri pada mu, begitu pula atasan kamu apa kamu tidak merasa gak enak kepada beliau?” ibu terus memastikan dan tidak ingin anaknya tidak berfikir dulu sebelum berfikir.

“bagaimana tidak ijin bu, disana test wawancara selalu jam hari kerja, kalau saya tidak ijin, kapan saya mau dapat kerjaan? Saya sudah mendapat panggilan dari email, tapi karena saya tidak ijin di kantor saya kerja saat ini, saya gak pernah bisa ikut test wawancara dimana perusahaan-perusahaan yang saya ikuti test dan persyaratannya untuk mencari pekerjaan.” Dengan rasa sebal kakak karena ibu masih bersikeras ingin dia berfikir dulu lalu meninggalkan ibu di ruang tv.


Setelah lama ibu dan kakak beradu mulut mengenai kakak yang ingin pindah pekerjaan, ibu selalu sedih memikirkan apa yang dilakukan anaknya ini. Ibu tidak ingin kejadian tidak terduga di beberapa tahun silam lalu terjadi kembali pada kakak ku yang pertama disaat masih di bangku kuliah.


“dek, ibu bukannya gak pengen kakak mu gak pindah pekerjaan di jakarta, ibu cuman kepikiran apa disana nanti kakak mu akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai keinginannya apa tidak, walaupun kakak mu sudah berkeluarga ibu masih memikirkan dia kalau bersikap seperti anak kecil dan membuat istrinya tidak sabar menghadapinya”. Rasa cemas ibupun mulai timbul disaat H-1 kakak pergi ke jakarta untuk memenuhi panggilan kerja di jakarta.

“ya sudah bu kalau itu memang sudah keputusan kakak, biarkan saja dulu, ibu gak usah terlalu memikirkan dia, nanti ibu pusing memikirkannya terus, apalagi sekarangkan dia juga sudah dewasa sudah tahu benar atau salahnya dia, biar dia belajar bertanggung jawab bu, dia juga sudah berkeluarga sekarang.” Dengan bijak aku menasehati ibu supaya ibu tidak terlalu memikirkan kakak pertama apa yang sudah menjadi keputusannya disaat pindah kerja kejakarta.

“iya dek, alhamdulillah dia sudah mendapat pekerjaan yang layak disana, dulu saat kakak mu gagal kuliah di kota pelajar banyak tetangga mu yang berbisik-bisik satu sama lain, ibu hanya bisa cuek dengan apa yang mereka bicarakan tentang kakak mu, yang penting ibu sudah tidak bertanggung jawab lagi dan tidak berdosa karena ibu dan bapak tidak membiarkan kakak mu untuk tidak lanjut kuliah lagi. Dan sekarang bisa dilihat hidupnya sekarang lebih enak dan terang dibanding dulu waktu masih di jaman kuliahnya di kota pelajar, untung ibu dan bapak langsung mengambil alih supaya kakak mu pindah ke kota pahlawan untuk melanjutkan kuliahnya. Dan sekarang malah orang-orang yang dulunya membicarakan kakak mu hidupnya tidak seberuntung kakak mu.” Dengan wajah sedih ibu bercerita isi hatinya.

“iya bu, alhamdulillah sekarang hidup kakak sudah tidak seperti dulu lagi, itu karena ibu dan bapak sudah mendidik kita supaya tidak menjadi anak yang tidak berguna.” Sambil ketawa pun aku menepuk bahu ibu.

“iya dek, alhamdulillah kakak mu yang kedua juga masih memberikan uang kepada ibu untuk membantu biaya kuliah mu, jadi ibu tinggal punya kewajiban untuk membuat mu kuliah sampai selesai, dan kamu juga harus berusaha, jangan malas-malasan untuk mencapai semuanya. Nanti setelah lulus kamu bisa kuliah yang lebih tinggi lagi sambil cari kerjaan dek, buat pengalaman di dunia kerja nantinya”. Nasehat ibu kepada ku dimana dia tidak ingin anaknya yang perempuan sendiri gagal seperti anaknya yang sebelumnya.



Terimakasih ibu Sri Rejeki(58) dan bapak Bambang Suharto(62) yang sudah mendidik kami (hengky,adit dan nindha) menjadi anak yang bisa membanggakan kalian, walau kalian selalu marah kepada kami, namun kemarahan kalian adalah nasehat awal bagi kami supaya kami mampu menjadi manusia yang kuat mengahadapi dunia persaingan saat ini. Menjadikan kami anak yang tidak pernah mengeluh selamanya, tidak pernah membuat kami merasa kekurangan apapun walau dirumah kalian selalu apa adanya dibanding keluarga kalian yang lain, karena kalian membanting tulang untuk anak-anak mu...terimakasih sudah memenuhi kewajiban dan hak kalian untuk kami bertiga selama kami menjadi manusia di bumi yang indah ini. (nd)
Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di websitehttp://nulisbarengibu.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar